06/09/2011

Griya Kongco Dwipayana di Tanah Kilap


Griya Kongco Dwipayana letaknya di Tanah Kilap, ini perbatasan antara denpasar dan Kuta, yang dipisahkan oleh bendungan, dekat hutam Mangrove.
Menurut Ida Bagus Adnyana, seorang penekun spiritual asal desa Kamasan, Klungkung, pendirinya  Kongco Dwipayana bermula dari ditemukannya tiga peninggalan kuno. Masing-masing berupa petilasan Batara Lingsir (Dewa Siwa), prasasti batu bertuliskan peristiwa Dinasti Ching sekitar 360 tahun silam, serta sebuah kolam suci. Pada tahun 1987 ketika itu, di mana Tanah Kilap masih merupakan belantara Mangrove yang lebat. Atas titah bisikan gaib itu, maka berangkatlah Adnyana ke Tanah Kilap yang juga dikenal dengan sebutan Alas Muntig. Sepuluh tahun kemudian ia seperti digerakkan oleh kekuatan dahsyat di luar dirinya untuk memulai membangun Kongco di Tanah Kilap, berdampingan dengan Pura Luhur Candi Narmada.

Kini, kedua tempat peribadatan tersebut bersanding harmonis dan menjadi contoh baik untuk persandingan antar pemeluk agama di Bali. Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap adalah tempat ibadat umat Hindu untuk memuja Batari Niang Sakti yang diyakini penganut Hindu di Bali sangat pemurah, suka membantu rejeki para pedagang dan pebisnis. Sedangkan Griya Kongco Dwipayana menunjukkan persahabatan erat antara penganut Hindu (Siwa), Budda, dan Tao.
Di bagian timur laut tempat suci ini berdiri Gedong, tempat memuja Batara Lingsir (Dewa Siwa). Di sebelah selatan berdiri dua bangunan suci yaitu Gedong Buddha dan Gedong Kongco. Gedong Buddha untuk memuja Buddha dan Dewi Koan Im sebagai dewi welas asih, sedangkan Gedong Kongco untuk memuja Dewa Shin She/Batara Dokter (Ong Tay Jin) dan Ong Hu Niu Niu sebagai “tuan rumah” yang diyakini murah hati sebagai dewa kesejahteraan dan filsafat.
Di sini dipuja pula Dewa Panglima Armada (Sam Po Tay Jin/Sam Po Kong), Dewa Perang (Kwan Kong), Dewa Laut (Tian Shang Sheng Mu), Ratu Bagus Sakti Syahbandar (Ratu Mas Alan Ulun), Dewa Amurwa Bumi (Tho Di Kong), dan Dewa Na Cha Sakti.
Panglima Armada Sam Po Tay Jin (atau Sam Po Kong) yang dipuja di Konco ini dikenal sebagai panglima armada yang berjasa besar bagi negeri Tiongkok. Tahun 1405 pertama kali Panglima beragama Islam ini memimpin armadanya ke sejumlah negeri, melewati Campa, Jawa, Palembang, Sri Lanka, dan sekitarnya. Dalam lawatan berikutnya, misi ini dilengkapi dengan membawa bibit tanaman dan sempat juga sampai ke tanah Bali, mengajarkan bercocok tanam dan berdagang. Sang Panglima sempat juga singgah beberapa lama di Tanah Kilap.

Kini, kemurahan hati Dewa Sam Po Tay Jin di Kelenteng Tanah Kilap dibuktikan dengan anugerah sebilah keris yang datang secara gaib yakni jatuh dari langit dalam bentuk cahaya ke kolam suci. Hal itu terjadi pada pertengahan tahun 1990 tepat dihadapan Adnyana.
“Keris sepanjang 15 centimeter itu berisi gambar Sam Po Tay Jin menunggang gajah dan tulisan Cina nama Sam Po Tay Jin”, tutur Adnyana.
Yang juga istimewa di Tanah Kilap, di depan Gedong Kongco distanakan Dedwi Chi Sian Nii, yang merupakan perwujudan satu-satunya di Indonesia, berupa tujuh dewi sebagai asisten permaisuri Kaisar Langit. Di sinilah orang-orang lazim memohon keselamatan, kesehatan, membuka jalan keberuntungan, masalah perjodohan hingga rumahtangga. Perwujudan Tujuh Dewi Chi Sian Nii ini distanakan di atas kolam suci berbentuk siao pwe.
Kolam suci ini dipercaya mengandung mukjizat. Airnya tidak pernah meluap, tapi juga tidak kunjung habis. Air suci inilah lazim diberikan kepada orang-orang usai sembahyang, agar memperoleh berkah sesuai karma masing-masing.
Griya Kongco Dwipayana merayakan ulangtahun setiap 9/9-Kau Gwee, sedangkan Dewi Chi Sian Nii dirayakan pada 7/7-Jit Gwee.

Dari Kuta jarak Kongco ini hanya sekitar satu kilometer. Jika kamu melewati jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai menuju arah Sanur, letak dekat bendungan dan ada jalan masuk menuju ke Kongco Dwipayana.

No comments:

Post a Comment