14/12/2010

Wapres(Warung Apresiasi) Tidak Akan Pernah Mati

Wapres(Warung Apresiasi) terletak di sebelah belakang Blok M Plaza, Berdiri pada 19 Oktober 2002, terletak didekat dengan gedung olah raga Bulungan  Posisinya berada di depan Gultik(Gulai Tikungan) Blok M Plaza. Anto Baret, dedengkot Wapres, menceritakan pendirian tempat ini dilandasi atas minimnya ruang publik yang mewadahi para seniman. Lantas, Anto bersama teman-temannya menghimpun dana secara swadaya untuk membangun Wapres. Wapres adalah sebuah tempat kumpul yang cukup nyaman dan menyenangkan dimana kita bisa melihat penampilan grup band baru atau Artis ibukota yang sudah terkenal bikin acara untuk amal. Tempat bermain musik di sebuah panggung permanen yang terletak di tengah warung, dengan arsitek yang sederhana dan unik.

Tempat ini memang tidak terlalu mewah, tapi menjadi tempat favorit bagi para pencinta seni. Nuansa seni begitu terasa saat memasuki Wapres, tepat di sebelah kanan pintu masuk terdapat gerai buku-buku sastra, CD, dan kaset band Indie. Di bagian depan ada panggung mini. Siapa pun boleh pentas di sini tanpa dipungut bayaran sepeser pun dengan syarat tertentu. ”Yang paling utama, mereka harus membawakan karyanya sendiri,” ungkap Anto.
Di sini, lanjut Anto, para seniman bebas mengapresiasikan kesenian dalam berbagai bentuk, seperti puisi, musik, teater, atau tari-tarian. Lantaran bersifat terbuka, Wapres tidak mengenal usia, status sosial, dan senioritas. Anto menerangkan misi Wapres adalah ruang publik yang mewadahi ekspresi para seniman. Bahkan, seniman sekelas WS Rendra, Remy Sylado, dan Sutardji Calzoum Bachri pernah membacakan karyanya di tempat tersebut.
Wapres mirip padepokan seni dengan menyuguhkan pentas seni yang variatif. Di bagian belakang terdapat sejumlah saung yang dipayungi pepohonan. Dulunya, lokasi ini adalah tempat pembuangan sampah. Kemudian KPJ bersama warga setempat menyulapnya menjadi saung yang biasanya dimanfaatkan sebagai tempat diskusi secara informal. 
Tidak jauh dari saung, terdapat panggung terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat berlatih teater atau tari-tarian. Bagi Anto, Wapres bukan hanya menjadi tempat belajar dan mengekspresikan kesenian saja, melainkan juga sebagai tempat yang menjunjung kearifan lokal. Seperti bergotong royong, bersilaturahmi dan menghargai sesama tanpa melihat latar belakang sosialnya.
Seniman musik Leo Kristi, Mbah Surip, Melanie Subono, Endank Soekamti.dll pernah merasakan dinginnya panggung Wapres sambil membawakan lagu-lagu mereka dengan gemuruh penonton yang setia menemani.
Wapres bentuknya seperti huruf U, dengan tempat duduk dan dekor yang sederhana, yang mampu menampung sampai 100 orang. Sebuah panggung berukuran 4×4 meter berada di tengah ruangan, lengkap dengan perlatan musik dan sound system yang siap untuk digunakan, kecuali keyboard dan perkusi.
Jika ada waktu, silahkan sekali-sekali menikmati makanan dan suasana di Warung Apresiasi, Bulungan, sambil menikmati musik gratis.

No comments:

Post a Comment