28/02/2010

Menonton Tari kecak di ujung selatan Bali( Uluwatu)

Uluwatu yang terletak di ujung selatan pulau Bali dan mengarah ke samudra Hindia, merupakan tempat wisata yang menawan selain pantainya dengan tebing-tebing yang tinggi dan batu karang serta ombaknya yang tinggi. Disini juga ada Pura Uluwatu, untuk bisa masuk kedalam pura ini pengunjung harus mengenakan sarung dan selempang yang bisa disewa ditempat itu. Waktu terbaik untuk mengunjungi pura Uluwatu adalah sore hari pada saat matahari terbenam sehingga bisa menyaksikan pemandangan matahari terbenam dan tari Kecak. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu. Menurut sejarah, ada dua pendapat tentang sejarah berdirinya pendirian Pura Uluwatu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa pura ini didirikan oleh Empu Kuturan pada abad ke-9, yaitu pada masa pemerintahan Marakata. Pendapat lain mengaitkan pembangunan Pura Uluwatu dengan Dang Hyang Nirartha, seorang pedanda (pendeta) yang berasal dari Kerajaan Daha (Kediri) di Jawa Timur. Dang Hyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1546 M, yaitu pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Sang Pedanda kemudian mendirikan Pura Uluwatu di Bukit Pecatu. Setelah melakukan perjalanan spiritual berkeliling pulau Bali, Dang Hyang Nirartha kembali ke Pura Uluwatu. Di pura inilah Sang Pedanda 'moksa', meninggalkan 'marcapada' (dunia) menuju 'swargaloka' (surga). Upacara atau 'piodalan' peringatan hari jadi pura jatuh pada hari Anggara Kasih, wuku Medangsia dalam penanggalan Saka. Biasanya upacara tersebut berlangsung selama 3 hari berturut-turut dan diikuti oleh ribuan umat Hindu.
Pura Uluwatu menempati lahan di sebuah tebing yang tinggi yang menjorok ke Samudera Indonesia dengan ketinggian sekitar 70 m di atas permukaan laut. Karena letaknya di atas tebing, untuk sampai ke lokasi pura orang harus berjalan mendaki tangga batu yang cukup tinggi. Bangunan pura ini menghadap ke arah timur, berbeda dengan pura lain di Bali yang umumnya menghadap ke arah barat atau ke selatan. Di sepanjang jalan di tepi luar pura terdapat ratusan monyet ekor panjang yang berkeliaran. Walaupun tampak jinak, anda harus ber hati-hati disekitar komplek pura terdapat segerombolan monyet. Para monyet ini biasanya suka usil dengan mengambil berbagai macam barang yang dibawa pengunjung. Barang yang sering menjadi incaran mereka adalah kacamata, tas, dompet atau apa saja yang gampang direbut dan menarik buat mainan mereka. Jadi hati-hati dengan mereka apabila sedang berkunjung di komplek pura Uluwatu Bali. Tapi jangan dipukul atau dimarahi yaa mereka penunggu Pura Uluwatu, yang setia tiap pagi datang kalau sore mereka kembali pulang ke hutan sekitar Uluwatu.
Uluwatu memiliki pemandangan sunset yang sangat bagus dan juga menikmati tari Kecak di tengah suasana sunset dan hembusan angit laut adalah pengalaman yang sangat menarik. Posisi tempat dududk penonton yang lebih tinggi dan melingkar, akan memberikan kesempatan menikmati pemandangan tari Kecak yang menakjubkan.
Tari Kecak , adalah jenis tarian Bali yang paling unik dan tidak diiringi dengan alat musik/gamelan apapun, tetapi diiringi dengan paduan suara sekitar 70 orang pria. Tari Kecak ini berasal dari tarian sakral (Sang Hyang). Pada tari sanghyang seorang yang sedang kerasukan roh berkomunikasi denga para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Dengan menggunakan si penari sebagai media penghubung para dewa atau leluhur dapat menyampaikan sabda atau itahnya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipi cerita epos Ramayana ke dalam tarian tersebut.
Cerita singkatnya adalah sebagai berikut :
Karena akal jahat Dewi Kakayi (ibu tiri) Sri Rama, putra mahkota yang syah dari kerajaan Ayodya di asingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata, dengan ditemani adik laki-lakinya ( Laksmana) serta Istrinya (Dewi Sita) yang setia. Sri Rama pergi kehutan Dandaka, pada saat mereka berada di hutan, mereka di ketahui oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) seorang raja yang lalim, dan Rahwana pun terpikat oleh kecantikan Dewi Sita, Ia lalu membuat upaya untuk menculik Dewi Sita dan ia di bantu oleh Patihnya Marica. Dengan kesaktiannya, raksasa Marica menjelma menjadi kijang emas yang cantik dan lincah. Dengan demikian mereka berhasil memisahkan Dewi Sita dari Rama dan Laksmana. Rahwana lalu menggunakan kesempatan ini untuk menculik Dewi Sita dan membawanya kabur ke Alengkapura. Sri Rama dan Laksmana berusaha menolong Dewi Sita dari cengkraman raja yang kejam itu, atas bantuan bala tentara kera di bawah pimpinan Hanoman maka mereka berhasil mengalahkan bala raksasa Rahwana yang dipimpin oleh Megananda, putranya sendiri. Akhirnya Sri Rama berhasil merebut kembali istrinya dengan selamat.
Selamat menikmati sunset di Uluwatu dan tari Kecak.

1 comment: